Beranda | Artikel
Tafsir Surah Abasa (Bag. 1): Teguran Lembut Kepada Rasulullah
14 jam lalu

Surah Abasa adalah surah Makiyah, di dalamnya terdapat berbagai kabar berkenaan dengan akidah dan risalah Nabi. Pada surah ini juga, Allah menceritakan tentang bukti kebesaran dan tauhid rububiyah berupa penciptaan manusia, tumbuhan, pepohonan, serta berbagai makanan. Kemudian surah ini ditutup dengan kengerian yang terjadi di hari kiamat.

Sebab turunnya awal surah ini adalah pada suatu hari, Rasulullah sedang mendakwahi sebagian pembesar suku Quraisy agar masuk Islam. Nabi berharap bahwa dengan masuk Islamnya mereka, maka pengikutnya juga akan masuk Islam. Ibnu Juzay berpendapat bahwa pada saat itu, yang Nabi dakwahi adalah Walid bin Mughiroh, atau Utbah bin Rabiah, atau Ummayah bin Khalaf. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)

Pada saat beliau berdakwah tersebut, datanglah sahabat bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan. Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepada engkau.” Perkataan ini diulang oleh Abdullah bin Ummi Maktum dalam keadaan beliau tidak tahu apa yang Nabi sedang kerjakan, sehingga Nabi merasa kurang berkenan, bermuka masam, serta berpaling darinya. Kemudian turunlah awal surah Abasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ

“Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.” (QS. Abasa: 1-2)

Nabi bermuka masam, yaitu “cemberut” serta berpaling dari Abdulah bin Ummi Maktum karena merasa kurang nyaman. Hal ini karena Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta nasihat berkaitan urusan Islam, padahal Nabi sedang sibuk mendakwahi pembesar Quraisy.

Allah menggunakan bentuk orang ketiga yaitu “dia” ketika mengisyaratkan pada Nabi, sebagai bentuk teguran yang sangat lembut dan halus untuk Nabi. Dalam bahasa Arab, perubahan kata ganti orang kedua (“kamu”) menuju kata ganti orang ketiga (“dia”) disebut dengan iltifat, yang salah satu tujuannya adalah melembutkan kalimat.

Pendapat yang menyebutkan bahwa teguran ini adalah teguran yang lembut adalah pendapat yang dikemukakan oleh banyak ulama, di antaranya Ibnu Athiyah dan Ibnu Juzay. Akan tetapi, ada pendapat bersebrangan yang disampaikan oleh Zamakhsyari, bahwa pengingkaran dalam bentuk kata ganti orang ketiga menunjukkan adanya pengingkaran yang lebih keras atas suatu kesalahan. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)

Setelah Nabi mendapatkan teguran karena Abdullah bin Ummi Maktum ini, Nabi tidak lantas menjadi antipati dan acuh terhadapnya. Namun sebaliknya, Nabi menunjukkan rasa terimakasih yang besar kepadanya, serta mengatakan ketika dia datang. “Marhaban, selamat datang orang yang dengannya Allah menegurku dengan lembut.” Setelah itu, Nabi menggelar selendang beliau untuknya.

Nabi juga memberikan kemuliaan bagi Ibnu Ummi Maktum dengan memberikan tugas agung kepada beliau, yaitu menjadi muazin salat Subuh di masjid Nabawi. Lebih jauh lagi, Nabi juga meminta Abdullah bin Ummi Maktum untuk menjadi pengganti Nabi ketika beliau sedang berjihad sebanyak dua kali, salah satunya ketika perang dengan Bani Nazhir pada tahun 4 Hijriah.

Ini adalah suatu contoh teladan patriotik, sikap kesatria, dan lapangnya hati Nabi dalam menerima teguran dari Allah. Suatu sikap yang saat ini sudah mulai hilang, karena kita jumpai seseorang, apalagi yang “berada di atas”, sangat antipati dalam menerima kritik dan masukan, bahkan melakukan persekusi untuk menjatuhkan kedudukan lawan mereka.

Penyebutan kata “buta” untuk menyebut Ibnu Ummi Maktum juga memiliki rahasia keindahan bahasa Al-Qur’an, yaitu adanya isyarat untuk memberikan uzur kepada beliau karena tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan karena butanya. Karena seandainya Ibnu Ummi Maktum tidak buta, pasti tidak akan menyela pembicaraan Nabi. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 430)

Ayat ini juga menjadi dalil bolehnya penyebutan “buta” atau ciri khusus lain yang dimiliki oleh seseorang, dengan syarat memang ada manfaat dari penyebutan tersebut. Hal ini lumrah digunakan oleh ahli hadis ketika menyebutkan rawi hadis dengan ciri mereka seperti Sulaiman Al-A’masy yang rabun penglihatannya atau Abdurrahman Al-A’raj yang pincang kakinya. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 431)

Pada masa itu, penggunaan sifat fisik (seperti pincang, buta, atau rabun) sebagai julukan merupakan hal yang sangat umum digunakan oleh para ulama hadis untuk membedakan identitas seorang perawi agar tidak tertukar dengan orang lain yang memiliki nama serupa. Julukan ini murni berfungsi sebagai identifikasi pengenal, bukan untuk menghina atau merendahkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ , اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ

“Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?” (QS. Abasa: 3-4)

Allah melanjutkan teguran kepada Nabi, wahai Rasulullah, siapakah yang membuatmu tahu serta memberitahumu, barangkali Abdullah bin Ummi Maktum yang engkau bermuka masam di hadapannya, akan menyucikan diri dari dosa-dosanya melalui ilmu yang ia terima darimu.

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa orang buta yang datang dengan tulus tersebut justru jauh lebih siap menerima kebenaran dan menyucikan jiwanya ketimbang para pembesar Quraisy yang sombong. Menunjukkan bahwa kemuliaan sesungguhnya didapatkan dari sucinya jiwa dengan ilmu dan amal, bukan dengan kekayaan yang melalaikan.

Pada ayat ini, Allah melakukan iltifat kembali, mengembalikan kata ganti orang ketiga menjadi kata ganti orang kedua dengan menyebut Nabi secara langsung, dengan tujuan agar Nabi memberikan perhatian penuh kepada Ibnu Ummi Maktum.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ , فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ , وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ

“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” (QS. Abasa: 5-7)

Allah melanjutkan tegurannya kepada Rasulullah. Orang-orang musyrik Quraisy yang merasa tidak memerlukan Allah dan iman, karena mereka telah merasa kaya dan cukup dengan kekayaan harta benda, engkau menghadapkan dirimu pada mereka, mendengarkan perkataan, serta memberi perhatian kepada mereka, supaya dirimu dapat menyampaikan dakwah kepada mereka.

Padahal engkau, wahai Rasulullah, hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan risalah, adapun hasil akhir apakah diterima atau tidak, maka itu semua ada di tangan Allah, dan bukan di tanganmu. Maka tidak ada dosa bagimu, jika engkau telah berdakwah dengan sekuat tenaga dan penuh hikmah, akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman.

Di samping itu, ayat ini juga dalil tentang perhatian Nabi terhadap seluruh umat dan keinginan kuat beliau agar semua orang masuk Islam, bahkan termasuk orang yang berpaling dan merasa tidak butuh, sebagai bentuk kasih sayang yang ada pada diri Nabi untuk menyelamatkan mereka di dunia dan di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ, وَهُوَ يَخْشٰىۙ , فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ

“Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan dia takut (kepada Allah), malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.” (QS. Abasa: 8–10)

Ayat ini masih sambungan teguran dan pengajaran dari Allah kepada Nabi, yaitu adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas demi meraih petunjuk, mendambakan bimbingan menuju kebaikan, serta mengharapkan nasihat-nasihat Islam, sementara hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, justru engkau berpaling dan mengabaikannya (pada kasus Ibnu Ummi Maktum).

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah agar tidak mengkhususkan dakwah kepada orang tertentu saja. Sebaliknya, beliau wajib menyamakan kedudukan manusia dalam penyampaian dakwah kepada mereka, baik antara orang terpandang atau orang yang lemah, yang kaya atau yang miskin, baik kepada pembesar manusia atau orang biasa, lelaki atau perempuan, hingga anak-anak dan orang dewasa.

Sebagian ulama, seperti As-Suyuthi, menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dorongan kuat untuk menyambut kaum yang kekurangan dengan penuh kehangatan dan memberikan perhatian tulus kepada mereka di majelis ilmu dan pada kehidupan sehari-hari. Bahkan diriwayatkan bahwa kedudukan orang-orang yang kekurangan dalam majelis Sufyan Ats-Tsauri seperti kedudukan para pemimpin yang berhak dihormati.

[Bersambung]

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Artikel asli: https://muslim.or.id/114766-tafsir-surah-abasa-bag-1.html